Pimpinan Tahfidz Fathiyyah Zahra, KH Iim Abdul Karim, menekankan bahwa benteng agama harus dibarengi dengan ketajaman intelektual.
“Di era modern ini, santri tidak boleh hanya pandai mengaji di dalam lingkungan pondok. Mereka harus siap menghadapi tantangan global. Karena itu, kami menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus mengintegrasikannya dengan penguasaan IPTEK dan IMTAQ,” tegas KH Iim saat memantau aktivitas belajar mengajar, Minggu (25/10).
Ia menambahkan, target utama lembaga ini bukanlah mencetak lulusan yang sekadar bisa menyebutkan jumlah juz yang dihafal. Lebih dari itu, Fathiyyah Zahra bertekad melahirkan pribadi yang akhlaknya menjadi cerminan hidup dari Al-Qur’an, serta mampu berprestasi di berbagai bidang kehidupan.
Membangun Budaya Kompetisi yang Sehat
Untuk mewujudkan visi tersebut, Fathiyyah Zahra secara proaktif menumbuhkan budaya kompetisi yang sehat di lingkungan internal. Langkah ini dirancang agar para santri terbiasa bersaing secara positif, sehingga mereka tidak hanya unggul dalam kajian keagamaan, tetapi juga siap meraih kejuaraan di tingkat nasional maupun internasional dalam bidang akademik, seni, dan olahraga.
























