“Metode belajar bersama adalah laboratorium kehidupan. Saat para santri saling berbagi, berdiskusi, dan mengoreksi, mereka tidak hanya sedang mengukir hafalan, tetapi juga mengasah akal, melatih kepemimpinan, dan menebarkan persaudaraan,” ujar Kang H Iim, Rabu (14/10/2026).
Pernyataan tersebut menjadi kunci dari sistem pendidikan di Fathiyyah Zahra. Pada awal pekan, tepatnya Senin hingga Rabu, ritme belajar santri dibagi secara proporsional. Siang hari dialokasikan untuk mengasah logika dan eksakta, sementara sore hari difokuskan pada penguatan spiritual melalui tahfidz reguler.
Santri tidak dilepaskan dari realitas dunia modern. Melalui program Calistung (Baca, Tulis, Hitung) dan bimbingan Matematika kolaboratif, fondasi nalar kritis mereka terus diasah. Sementara itu, untuk menjaga konsistensi dan kekuatan hafalan, program tahfidz akhir pekan digelar pada Sabtu dan Minggu pagi.
























