“Al-Quran yang kita hafal di dada, akan menjadi syafaat dan cahaya di hari kiamat kelak, namun ia membutuhkan penjaga yang paling utama, yaitu sholat. Sholat berjamaah adalah ruh dari seorang hāfidz. Jika hafalannya banyak namun sholatnya ditinggalkan atau tidak berjamaah, maka ia kehilangan esensi penghambaan,” ujar KH. Iim Abdul Karim, kepada BERITAOKE.ID Senin (19/10).
Kyai Iim, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa setiap azan yang berkumandang harus disambut dengan penuh kerinduan untuk bersujud kepada Allah SWT, bukan sekadar kewajiban yang memberatkan.
“Dengan berjamaah, kita belajar bahwa Islam bukan agama individualis. Kita bergerak bersama, bersujud bersama dalam satu shaf, menuju ridha Allah SWT. Pembiasaan di majelis ini diharapkan tertular dan menjadikan para siswa sebagai pelopor kebaikan saat kembali ke keluarga dan masyarakat,” tambahnya.
























