“Menghafal Al-Quran adalah fondasi spiritual, sementara seni adalah bahasa keindahan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Ketika seorang hafidzah mampu mengekspresikan nilai-nilai Qurani melalui seni yang santun dan bermartabat, di situlah dakwah hadir dengan wajah yang menyentuh hati. Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga luwes dalam menyampaikan kebaikan melalui berbagai media, termasuk seni budaya,” ujar KH Iim, Rabu (7/10).
Lebih lanjut, KH Iim menegaskan bahwa penampilan tari pada Haflah Akhirussanah telah dirancang sesuai dengan adab dan nilai-nilai keislaman, sehingga tetap menjaga kehormatan dan kesucian program tahfidz yang menjadi unggulan pesantren.
“Haflah Akhirussanah bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa santri tahfidz itu multidimensi. Mereka bisa menjadi penjaga wahyu sekaligus pelestari budaya yang berakhlakul karimah,” tambahnya.
























