“Menghafal Al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan kekuatan otak, tetapi butuh cahaya dan keberkahan dari Allah SWT,” tegas KH Iim di sela-sela kegiatan. “Sholat dhuha berjamaah ini kami jadikan sebagai fondasi spiritual. Dengan rutin Dhuha, dzikir, dan muraja’ah, kami berharap para santri kelompok Asy-Syifa tidak hanya hafal di luar kepala, tetapi Al-Qur’an juga hidup di dalam hati dan menjadi pedoman akhlak mereka sehari-hari.”
Untuk mewujudkan visi mencetak generasi yang rabbani (memiliki kedalaman ilmu agama) dan berakhlakul karimah, majelis ini tidak hanya mengandalkan metode hafalan konvensional. Mereka merancang empat pilar program pembiasaan yang dijalankan secara terstruktur dan konsisten, yakni:
1. Sholat Dhuha Berjamaah: Sebagai pembuka hari dan sarana menjemput keberkahan.
2. Sholat Ashar Berjamaah: Untuk menjaga istiqomah dan konsistensi ibadah di penghujung siang.
3. Dzikir dan Doa Bersama: Sebagai media penguat ketenangan hati dan sikap tawakal.
4. Mudarosah dan Muraja’ah Al-Qur’an: Sesi diskusi ilmiah dan pengulangan hafalan untuk menjamin kualitas serta kelancaran bacaan.
























