“Kegiatan mutojaah pagi ini adalah wujud kecintaan anak-anak kita kepada Al-Qur’an. Namun, sebagai lembaga pendidikan, kami menyadari bahwa santri juga harus siap menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, kami merancang program yang memadukan tahfidz dengan matematika dan calistung,” ujar KH Iim, kepada BERITAOKE.ID Sabtu (24/10).
Lebih lanjut, KH Iim menegaskan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak seharusnya membuat anak tertinggal dalam ilmu sains. Justru, menurutnya, Al-Qur’an menjadi cahaya yang mempertajam akal pikiran dan memudahkan mereka dalam menguasai ilmu-ilmu logika seperti matematika.
Dengan adanya variasi program yang terstruktur ini, Majelis Tahfidz Fathiyyah Zahra Abdul Karim di Sukabumi terus menjadi rujukan bagi para orang tua yang menginginkan pendidikan holistik bagi putra-putrinya. Hingga siang hari, para santri terlihat antusias melanjutkan sesi belajar, membawa harapan besar bagi terwujudnya generasi rabbani yang cerdas, terampil, dan berakhlak mulia.
























