“Shalat berjamaah adalah jantung dari kegiatan tahfidz kami. Kami mewajibkan setiap santri untuk tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Karena sebelum mereka menghafal dan membawa Al-Quran di dalam dada, mereka harus terlebih dahulu memiliki adab dan ketaatan kepada Allah melalui tiang agama ini,” ujar KH Iim saat dikonfirmasi, Rabu (4/11/2026).
KH Iim menjelaskan, konsistensi dan kedisiplinan dalam berjamaah ini diharapkan tidak hanya berhenti di lingkungan pesantren. Karakter yang terbentuk dari rutinitas spiritual ini harus melekat dan terbawa hingga para santri kembali ke tengah-tengah masyarakat.
“Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya otaknya penuh dengan hafalan ayat, tetapi juga hatinya hidup dengan panggilan azan dan kakinya ringan melangkah ke masjid,” tambahnya.
Lembaga Tahfidz Fathiyyah Zahra Abdul Karim sendiri terus mengukuhkan posisinya sebagai pusat pendidikan Al-Quran unggulan di wilayah Cisaat. Dengan menyeimbangkan pencapaian hafalan dan penanaman akhlakul karimah, kegiatan rutin seperti shalat berjamaah ini menjadi bukti nyata komitmen lembaga dalam mencetak generasi Rabbani yang kuat secara spiritual dan disiplin dalam beraktivitas.
























