Ditambahkan Riki, sementara disaat bersih-bersih pantai harus melibatkan warga masyarakat, anak sekolah dan komunitas. “Jadi intinya warga itu kecewa. Orang yang enak ambil duit, tapi saat bersih-bersih harus warga,” tuturnya.
Menurut Riki, pungutan dan fasilitas yang ada di kawasan wisata Ujunggenteng jelas tidak balance ‘seimbang’. Dari beberapa fasilitas yang ada, itu tidak semua dibangun oleh Pemda (Dinas Pariwisata).
“Ingin warga, tollgatte yang melakukan pungutan jadi kenapa saat melakukan pembersihan sampah harus warga? Jadi ini seperti bom waktu,” pungkasnya.
Selain merusak bangunan pos retribusi Tollgate wista Ujunggenteng, massa turut membawa beberapa kantong sampah dan ditaroh di pos retribusi sebagai sebagai simbol pernyataan sikap atas kekecewaan warga.(*)red






















