”Dalam dua tahun terdampak pandemi termasuk ke gerakan Maghrib mengaji. Namun gerakan ini jadi kebiasaan bagi masyarakat, ketika jadi kebiasaan maka terus berlanjut, Apalagi tidak bisa dipungkiri ada anak yang belum bisa membaca Alquran dan ke depan melakukan pendataan ketika ada yang belum bisa maka harus dilakukan intervensi,” jelasnya.
Fahmi khawatir semakin besar mereka semakin sulit untuk membaca tulis Al-quran dan kalau masih kecil bisa cepat beradaptasi. Intinya ada anak yang harus diselamatkan dan harus dilakukan intervensi.
“Saya berharap dengan adanya Gerakan Maghrib Mengaji semakin mengakar dan membudaya. Sehingga anak berkumpul di masjid bisa terjadi, minimal di waktu Maghrib hingga shalat Isya.
Ditambahkannya, Insyalah gerakan ini bisa menjaga anak ketika memiliki budaya itu, dan juga mengucapkan terimakasih kepada alim ulama dan guru ngaji mari terus kuatkan gerakan tersebut.






















