“Saya pun tertimpa puing-puing bangunan rumah. jangankan untuk berlari, menghirup udara untuk bernafas pun susah karena pengeap dan berat, karena saya tertimpa reruntuhan,” ucapnya sambil air matanya berlinang.
Meskipun demikian, pada saat kejadian itu ia berusaha berteriak sebisa mungkin untuk meminta pertolongan. Alhamdulilah, selang beberapa menit ia bersama anaknya mendapat pertolongan dari adiknya sendiri.
Sementara sang suami bekerja di Jakarta. Akan tetapi pihak keluarga sudah memberikan kabar kepadanya.
“Akibat tertimpa puing-puing reruntuhan rumahnya, ketiga jari yakni jari jempo hampir putus. Sedangkan jari manis dan jari telunjuk patah serta dari punggung tangan hingga punggung mengalami sobek dan harus dijahit. Untuk anak saya alhamdulillah tidak kenapa-kenapa,” bebernya.
Selain itu sambung Lilis, karena banyaknya korban gempa di Cianjur, selama 8 jam bagian yang terluka hanya dibersihkan alakadarnya dan hanya diberikan infusan.

























