“Ilmu itu cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor. Sholawat adalah pembersih hati dan pembuka pintu berkah. Sebelum otak mereka bekerja mencerna rumitnya gramatika dan makna dalam kitab kuning, hati mereka harus terlebih dahulu terhubung dengan Rasulullah SAW melalui sholawat,” ujar KH. Iim Abdul Karim di sela-sela pemantauan kegiatan pagi, Ahad (18/10).
Kyai Iim, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa adab menuntut ilmu dalam tradisi pesantren menempatkan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) di atas pencarian informasi.
“Dengan bersholawat, kami berharap ilmu yang diserap santriwati tidak hanya menjadi tumpukan teks di kepala, tetapi menjadi amal jariyah dan akhlakul karimah yang kelak akan menerangi kehidupan mereka dan masyarakat,” tambahnya.
Mengaji kitab kuning merupakan jantung dari tradisi pendidikan pesantren. Di Ponpes Baitussalam, para santriwati mempelajari berbagai disiplin ilmu agama, mulai dari fikih, tauhid, tasawuf, hingga nahwu shoraf yang menjadi kunci untuk membaca literatur klasik Islam.
























