“Mengaji dan menghafal Al-Qur’an sama sekali bukan sekadar aktivitas untuk menggugurkan kewajiban kurikulum. Ini adalah pertemuan ruhani yang sangat intim antara seorang hamba dengan Rabb-nya melalui Kalam-Nya,” ungkap KH Iim Abdul Karim, Rabu (7/10).
Beliau menekankan pentingnya menanamkan kesadaran spiritual kepada para anak didiknya. “Setiap huruf yang mereka lafazkan adalah cahaya. Kami terus menanamkan kepada para santri dan santriwati bahwa mereka adalah Ahlullah (keluarga Allah) di muka bumi. Maka, menjaga hafalan sejatinya adalah menjaga kehormatan ‘tamu agung’ yang telah diizinkan singgah dan bersemayam di dada mereka,” tambahnya.
Lebih dari sekadar hafalan lisan, KH Iim menginginkan agar Al-Qur’an benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari. Proses murajaah bersama ini didesain khusus agar para santri tidak hanya fasih melafalkan ayat, tetapi juga mampu meresapi makna dan menghujamkan adab Al-Qur’an ke dalam relung hati yang paling dalam.
























