Dalam kegiatan tersebut, para siswa membaca Al-Qur’an secara bergiliran. Satu siswa membaca, sementara teman-temannya menyimak dan menyampaikan koreksi bacaan di bawah pendampingan pengajar.
Materi yang dipelajari meliputi perbaikan makhraj dan tajwid, setoran hafalan baru, serta muraja’ah atau pengulangan hafalan yang telah dikuasai. Pola belajar berkelompok ini juga memberi ruang bagi siswa yang lebih lancar untuk membantu teman yang masih tertinggal.
Menurut KH Iim, penguatan hafalan yang sudah ada lebih diutamakan daripada penambahan target baru.
“Hafalan itu seperti titipan. Kalau tidak dibuka dan dibaca lagi, lama-lama menjadi asing. Karena itu muraja’ah kami dahulukan daripada menambah juz baru,” katanya.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut diterapkan agar siswa tidak merasa dibebani target. Belajar, dalam pandangannya, harus disertai rasa senang agar tumbuh menjadi kebutuhan diri, bukan paksaan dari orang tua atau guru.
























