Menurut KH Iim, penguasaan ilmu Gharib sangat penting agar santri tidak kaget dan tidak asal membaca ketika menemukan lafaz-lafaz unik dalam mushaf, sehingga mereka mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan riwayat yang diakui dan bersanad.
“Terutama pada ilmu Gharib dan Tahsin, kami ingin menanamkan adab kepada santri. Ketika mereka menemukan bacaan yang asing atau tidak biasa, mereka tidak langsung menghukuminya salah, melainkan merujuk pada riwayat dan kaidah yang ada. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kita kepada teks Al-Qur’an,” tambah KH Iim Abdul Karim.
Penerapan sistem intrakurikuler yang padat dan terstruktur di Cibolang Girang ini mendapat respons positif dari para wali santri. Mereka menyadari bahwa proses yang ditempuh anak-anaknya memang tidak instan, namun hasilnya adalah hafalan yang berkualitas, terjaga, dan memiliki dasar ilmu yang kuat.
























