BERITAOKE.ID – Di tengah maraknya lembaga pendidikan Al-Qur’an yang lebih berfokus pada kuantitas hafalan, Tahfidz Al-Qur’an Fathiyyah Zahra Abdul Karim di Cibolang Girang, Kecamatan Cisaat, memilih jalan berbeda. Lembaga ini secara konsisten menerapkan sistem intrakurikuler yang komprehensif untuk memastikan santri tidak hanya hafal, tetapi juga memahami dan menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an.
Pimpinan Tahfidz Al-Qur’an Fathiyyah Zahra Abdul Karim, KH Iim Abdul Karim, menjelaskan bahwa porsi waktu terbesar dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaganya dialokasikan untuk empat pilar intrakurikuler utama. Keempat pilar ini dirancang untuk mencetak penghafal Al-Qur’an yang mutqin (kuat hafalannya) dan shahih (benar bacaannya).
“Kami tidak ingin santri kami hanya menjadi robot penghafal. Al-Qur’an adalah kalamullah yang harus dijaga kemuliaan bacaan dan maknanya. Oleh karena itu, kurikulum intrakurikuler kami didominasi oleh empat sesi utama yang saling mengikat,” ujar KH Iim Abdul Karim, kepada BERITAOKE.ID Rabu (21/10/2026).
Empat pilar intrakurikuler tersebut meliputi:
1. Ziyadah (Penambahan Hafalan Baru)
Ini adalah sesi tatap muka wajib dan inti dari proses penambahan hafalan. Santri harus menyetorkan ayat atau lembaran baru secara langsung (talaqqi musyafahah) kepada ustadz/ustazah. Sesi ini memastikan bahwa hafalan baru yang masuk sudah benar-benar sesuai dengan kaidah sebelum diulang di kemudian hari.
























