Fahmi menambahkan, terdapat dua kondisi delinkuensi anak yang dapat memunculkan kasus kenakalan seperti yang terjadi belakangan ini. Hal itu yakni delinkuensi situasional ketika anak melakukan kenakalan karena keharusan, dan delinkuensi sistemik yang berarti mereka bergabung kedalam sebuah komunitas yang mengarahkan kepada kekerasan.
“Jadi kedua hal ini harus diantisipasi oleh semua pemangku kepentingan dunia pendidikan agar tidak terjadi lagi berbagai kasus serupa,” tegas Wali Kota.
“Kita berharap beberapa kejadian yang melibatkan pelajar beberapa waktu lalu, dapat betul-betul diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Karena kita ingin dunia pendidikan di Kota Sukabumi pasca pandemi harus lebih baik dibandingkan sebelumnya. Beberapa kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu, kita tadi berkomitmen cukup sampai disitu, mudah-mudahan kita berharap dan yakinkan tidak akan ada lagi kejadian serupa,” imbuhnya.


























