Pimpinan Lembaga Tahfidz Al-Quran Fathiyyah Zahra Abdul Karim, KH Iim Abdul Karim, mengatakan mekanisme berjenjang itu diterapkan agar kualitas hafalan santri terjaga, bukan semata-mata mengejar jumlah juz.
“Santri yang mengikuti tasmi adalah mereka yang sudah dinyatakan tuntas oleh ustazah kelasnya. Kami tidak ingin hafalan hanya berhenti di target kelas. Karena itu, tasmi menjadi pintu pemeriksaan terakhir, apakah bacaannya tartil, apakah ingatannya kuat, dan apakah benar-benar siap dipertanggungjawabkan,” ujar KH Iim Abdul Karim kepada di sela kegiatan, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, tiga juz yang ditasmikan, yakni Juz 28, 29, dan 30, memiliki karakter bacaan dan panjang ayat yang berbeda-beda sehingga membutuhkan ketelitian khusus dalam murojaah atau pengulangan hafalan.
“Juz 28, 29, dan 30 tidak bisa dihafal terburu-buru. Di situlah kami tekankan kesabaran dan kedisiplinan. Setelah tasminya terlaksana, tugas berikutnya adalah menjaga hafalan, karena mempertahankan jauh lebih berat daripada mengumpulkan,” tambahnya.
























